BAB 1
Pemuda terduduk termenung di atas batu dingin diselimuti kelam. Memikirkan gadis yang dijumpai, ternyata buatnya sesak bernafas, jantung deras mendera, rasa malu dan ingin tahu, terpecahkan saat itu. Galau tapi rindu, ingin sekali saja bercengkrama dan utarakan keinginanya.
Selang di malam yang sama, jauh dari sang pemuda, menuju ke rumah gadis yang dipikirkannya, dan dia bukanlah gadis lajang, karena yang di sangka ayah oleh pemuda ternyata adalah suami sang gadis. Meski perbedaan usia mereka lebih mirip ayah dan anak, namun kenyataannya tidak demikian. Bila sang pemuda tahu, tentu tak terkirakan betapa remuk cinta yang baru tumbuh itu.
Asriani adalah nama gadis yang menjadi perenungan batin sang pemuda yang bernama Hasan itu. Dan terdengar dari bilik Asriani,"Asri, kemarilah. Naik ke sini". Maka menurutlah Asri pada perintah suaminya itu. Disandarkan kepala Asri pada tubuh sang suami. Sang suami perlahan mencium rambut, kening, kemudian bibir keduanya pun bertemu. Udara dalam kamar itu pun mulai terasa pengap. Keduanya mulai bercampur dalam nafsu yang tak terbendung. Saling meraba dan saling merasa. Keduanya mulai bergerak dalam nafas seirama.
Tanpa terasa keduanya telah melucuti pakaian dan mulai memporak-porandakan kamar dengan gerak mereka. Tubuh yang terus saling bergesekan semakin terasa panas. Tempo terbangun dengan makin cepat seakan terus saling mengalahkan. Nafas yang makin tersengal dan sedikit rintihan menjadi nyanyian. Dan akhirnya, mereka telah mencapai tujuan dalam satu tarikan nafas yang panjang.
Jauh dari kamar gairah, masih di bawah bulan yang bersinar, Hasan masih termenung memikirkan gadis itu. Bisakah aku mengenalnya? Bagaimana caranya? Selalu tiu saja yang muncul dari pikiran Hasan. Tak tahu bahwa gadis itu bukanlah gadis remaja, melainkan istri dari seseorang.
Sungguh malang bagi mereka yang merasakan cinta tanpa disambut dengan cinta yang diharapkannya. Ingin protes pada Tuhan? Tentu Tuhan lebih tahu apa yang kamu butuhkan dari pada kamu sendiri.
Asriani BAB 2
tukar link
Bila Anda ingin tukar link dengan Blog ini, silahkan 'copy-paste' kode HTML dibawah ini :
Kode diatas untuk di pasang pada widget 'HTML/JavaScript' blog Anda. Bila Anda ingin memasang dengan widget blogroll silahkan ikuti petunjuk di bawah ini :
Judul isi dengan : TUKAR LINK
URL Situs Baru isi dengan : http://bukudankarya.blogspot.com/
Nama Situs Baru isi dengan : Buku dan Karya
Kemudian klik kotak 'TAMBAHKAN TAUTAN' dan silahkan Anda simpan.
Bila Anda telah meyimpan link blog saya silahkan isi form ini dan saya akan sesegera mungkin membalas pesan Anda.
Terima kasih telah bersedia tukar link dengan blog ini.
Marhaban Ya Ramadhan
Ramadhan,
adalah hadiah-Mu,
entah dengan apa aku bisa membalasnya,
termenung dan berserah kepada-Mu,
tentu tidak cukup,
karena bukan itu.
Ya Ramadhan,
ini adalah pensucian,
tak peduli hati dan perawakan,
dan aku hanyalah hamba-Mu,
berdo'a dengan berharap,
sucikan aku,
Ya Allah.
Marhaban ya Ramadhan,
jadikanlah aku golongan dari hamba-Nya,
Ya Allah,
ijinkanlah aku mentasbhihkan nama-Mu,
hingga usai Ramadhan,
ijinkanlah aku menyayat dosa dengan do'a,
simpuhku adalah jaminanku.
Selamat datang Ramadhan.
Ya Allah,
ijinkan aku datang,
dalam damai taman-Mu.
Lingkar Pena Kaltim, Forum.2000."Salsa Tersayang;kumpulan cerpen",Asy-Syamil Press&Grafika;Bandung.
'Salsa Tersayang' nama buku yang diambil dari salah satu judul cerpen karya Muthi' Masfu'ah yang ada dalam buku ini. Buku ini merupakankumpuln cerpen dari beberapa penulis muda yang berasal dari Kalimantan Timur yang tergabung dalam 'Forum Lingkar Pena' wilayah Kalimantan Timur. Forum lingkar pena merupakan salah satu wadah untuk para penulis yang ingin menumbuhkembangkan kemampuan anggotanya untuk berkarya dalam tulisan. Forum Lingkar Pena ini juga tersebar hampir di seluruh wilayah propinsi Indonesia.
'Salsa Tersayang' berisi sebelas cerpen yaitu :
1. Salsa Tersayang karya Muthi' Masfu'ah
2. Sepatu-Sepatu Rani karya Vonny Stricta Carmelia
3. Episode Sebuah Kehidupan karya Dian Ikawati
4. Abak karya Rizka Aziza Darwis
5. Salah Jalan karya Muthi' Masfu'ah
6. Anugerah Terindah karya Dian Ikawati
7. Hantu Kuyang karya Muthi' Masfu'ah
8. Bersemi Kembali karya Dian Ikawati
9. Rheina karya Vonny Stricta Carmelia
10. Pesona Sebuah Persahabatan karya Muthi' Masfu'ah
11. Mayka, Mayka karya Dian Ikawati
Buku ini adalah buku pertama yang dihasilkan oleh salah satu cabang Forum Lingkar Pena. Cerpen-cerpen dalam buku ini memilih tema fiksi remaja yang penuh dengan hal-hal yang sangat imajinatif seorang remaja. Bercerita tentang perjalanan imajiner para penulis yang merupakan seseorang yang taat dan religius. Hal ini terlihat sangat jelas pada setiap cerpennya. Meski didalam cerpen ini bernilai dakwah namun masih kurang dalam hal penyajiannya.
Penulis sangat paham , bahwa cerpennya adalah sebuah fiksi, jadi hal-hal yang jarang sekali di dapat di kehidupan nyata diangkatnya dalam cerpen mereka. Sehingga para pembaca bisa menyimpulkan bahwa keajaiban itu ada hanya dalam cerita fiksi. Inilah yang jadi kelemahan buku ini.
Tapi bukan berarti buku ini harus dijauhi atau tidak di baca, karena didalamnya terdapat nilai-nilai moral positif yang bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Yang menarik dari buku ini adalah bahasa yang ringan dan tokoh-tokoh di dalam cerpen yang menggambarkan seseorang yang taat.
Setiap buku punya kekuatan dan kelemahan, tapi yang terpenting jangan berhenti membaca hanya karena bukunya kurang berkualitas., karena apa pun yang kita baca sedikit banyak akan memberikan pengalaman imajiner kepada kita. Dan banyak orang besar yang berawal dari imajinasi yang besar pula.
Jadi Selamat Membaca.........!
Tiup Lentera Part 2
Part 1
ADEGAN III
(Ibu duduk termenung, kemudian lelaki masuk dan membuka tudung makanan di meja)
Lelaki : "Kosong? Tidak masak Bu?" (melihat Ibu)
Ibu : (Kaget) " Ha? Apa?"
Lelaki : "Ibu kenapa?"
Ibu : "Ayahmu, sudah tidak pernah kirim uang lagi selama 6 bulan ini."
Lelaki : (Bingung,kaget) "Mulai sekarang, Ibu tidak perlu memakai perhiasan emas dan permata. Kita sudah tidak membutuhkannya lagi. Jual semua Bu."
Ibu : "Ibu sudah menjualnya, bahkan tv, meja, lemari, juga sertifikat rumah ini sudah Ibu gadaikan. Ibu gunakan untuk makan, bayar sekolahmu, bayar buku-bukumu, dan kesenangan-kesenanganmu."
Lelaki : "Keparat lelaki itu"
Ibu : "Kamu adalah anaknya."
Lelaki : "Aaarrrgghh...."
(kemudian perempuan sang kekasih lelaki masuk menghampiri lelaki)
Perempuan : "Aku ingin bicara."
Lelaki : "Tentang apa?"
Perempuan : "Kita." (mengelus perutnya) "Disini ada anakmu 3 bulan."
Lelaki : (Kaget) "Apa? Goblok! Apa yang sudah aku lakukan? Aaarrrggghhh.........!"
(Lighting mati)
ADEGAN IV
(Lighting menyinari ibu di sudut panggung perlahan. Ibu termenung, sesekali terlihat menangis. Di sudut panggung yang lain, ayah dan perempuan si istri muda terlihat sedang bercanda. Di tengah panggung lelaki gelisah dan perempuannnya menatap dengan tajam, marah, dan bimbang)
Ibu : (Melihat lelaki) "Ayahmu........"
Ayah : (Melihat lelaki) "Pergi!!!"
Perempuan : (Melihat lelaki) "Anakmu....."
(Dialog di ulang-ulang hingga lelaki di puncak kegelisahannya)
Lelaki : "Aaarrghh.... Diam.... Inikah kehidupan kita? Kemiskinana yang membawa kita dalam kelam? Semua harta terjual demi makan dan sekolah? Parahnya, harta juga hilang demi kesenangan-kesenangan. Kemiskinan juga tidak bisa berikan aku kondom. Inikah derita jadi miskin? bukankah miskin dan kaya adalah pilihan? Bisakah aku memilih sekali lagi?"
Epilog : "Celoteh protes atas nasib,
bukan pertama dan sekali,
Tuhan telah mendengarnya,
sejak mereka diciptakan,
lupakah mereka atas larangan-Nya?,
banyakkah kesenangan yang mereka lewati?,
mereka hanya seonggok daging berbalut kulit,
lahirkan masalah mereka sendiri,
menutup pintu yang terbuka,
membuka hitam di luar cahaya,
manusia sengsara,
bukan karena miskin atau kaya,
itulah pilihan mereka."
Tiup Lentera Part 1
ADEGAN I
Prolog : Dari kaki bukit berkabut kelam,
turun deras hingga ke ujung sungai,
mata terbelalak karena muram,
berhenti sejenak, berpikir,
dimana ombak padi menguning,
mengapa tumbuh pabrik tinggi,
sudahlah, pagi harus menjadi siang,
tak perlu menjadi merah matamu,
sekarang jagung juga sudah jadi gedung,
nyanyian dan tarian duka,
juga tak beringsut dari tubuh para petani,
serta kuli,
dan juga teman miskin mereka.
(lighting mulai menyala dengan pelan, terlihat seorang lelaki menuruni tangga, matanya melihat sekitar, ditangannya ada kertas skenario, dan sedang dibacanya)
Lelaki : "Aku adalah lelaki. Meski otot tak dari besi, namun lidahku bisa hancurkan baja. Aku sekedar lelaki, tak bertulang karang, tapi hatiku tegas pegang demokrasi. Ini bukan tentang negara dan kemerdekaannya, tapi hanya tentang aku adalah lelaki.
(diulang-ulang hingga sampai rumah)
(Di rumah itu ada seorang ibu sedang menangis pelan)
Lelaki : (Terkejut)" Ada apa Bu?"
Ibu : (Melihat ke arah lelaki) "Ayahmu...." (terputus dan menangis) "...disana...." (menunjuk ke sebuah rumah)
(Lelaki keluar dan melihat rumah yang ditunjuk ibunya dan di dapatinya keramaian dan sang ayah telah menikahi istri yang baru)
Lelaki : "Ayah!!!" (membentak)
(Yang di panggilnya ayah terlihat kaget dan melihat ke arah lelaki dengan tajam)
Ayah : (membalas membentak) "Pulang!!")
Lelaki : "Gila!" (kembali masuk kedalam rumah)
(Lighting mulai redup tapi isakan tangis sang ibu masih terdengar sesenggukan, hingga lighting menjadi gelap)
Lelaki : " Aaaarrrrggghhhh.....................
perbuatan karena nafsu,
perbudakan akan hasrat,
kesenangan semata duniawi,
bukan pertarungan hidup yang di isukan,
tapi, mengapa semua menjadi berantakan,
mana hatimu, hai manusia?"
ADEGAN II
(Masuk lelaki dan perempuan terlihat sedang melakukan kesenangan-kesenangan mereka)
Perempuan : "Mengapa kamu mengajakku keluar? Bukankah pestannya belum selesai?"
Lelaki : "Aku sudah puas dengan kebisingan mereka aku hanya ingin berpesta denganmu kali ini. Apakah kamu siap denganku?"
Perempuan : "Kapanpun kamu inginkan, aku akan selalu ada untukmu."
Lelaki : (Membelai wajah dan rambut perempuan) "Aku ingin bacakan puisi."
Perempuan : "Baiklah, aku dengarkan"
Lelaki : "Kuda hitam binal menjulurkan lidahnya,
bukan lelah, bukan nafas tersengal,
ingin buktikan kepada anjing-anjing,
aku juga punya lidah ini,
lalu menerjang pintu,
lewati pagar-pagar berduri,
taklukan kelam malam menanarkan mata,
aku tidak lahir dari sini dan ini,
tapi kenapa jaring-jaring merekat erat,
menjebak, mengikat, mengurung,
tak bisa melihat harus kemana,
aku kuda hitam binal,
aku bukan kamu anjing."
Perempuan : (memeluk tubuh lelaki seolah ingin menenangkannya, dan tersenyum)
(Kemudian keduanya mulai terbawa nafsu dan masuk ke dalam siluet yang mneyembunyikan kedua tubuh mereka yang semakin mesum)
Part 2
Alhamdulillah
Tak seperti cahaya,
mentari rembulan,
dan bintang,
hadirnya nur milik-Mu,
jauh dari semua itu,
bukan menerangi mereka,
yang hanya bermata,
tapi jua,
nurani buta,
tetap melihatnya.
Nafas Engkau pinjamkan,
tuk kami mendengar,
melihat bijaksana,
dan menghidupkannya.
Puji pada-Mu,
melampaui batas waktu,
hati tunduk,
sembah sujud,
hamba yang hidup.
Ya Allah,
kabut waktu,
tak biaskan ada-Mu,
hangatnya harta,
tak gantikan nama-Mu.
Alhamdulillahi Robbil 'Alamin.