Tampilkan postingan dengan label Asriani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asriani. Tampilkan semua postingan

Asriani BAB 4

Asriani BAB 3
Sebilah pedang terhunus dari lengan kekar. Membelah semak belukar pelindung hutan. Menyibak gelap hingga fajar, demi mencari makan sepiring. Dan mentari semakin menerangi hutan lewati celah-celah dedaunan pohon. Tanpa disangka, mata Hasan menangkap sesosok tubuh tergeletak di antara rimbun semak. Dia mendekati tubuh itu, dan tiba-tiba tubuh itu terkaget dan segera bangun.

Begitu terkejutnya Hasan, bahwa tubuh itu adalah gadis yang selalu ada di dalam benaknya. Dia adalah Asriani. Asriani seakan ketakutan dan dengan bergetar dia berkata," Tolong jangan bunuh aku". Dan Hasan semakin terkejut ketika mendengar kata-kata itu. Namun dia segera sadar dan mencoba menenangkan gadis itu," Tenang Nona, saya tidak ingin membunuh Nona. Saya Hasan. Saya kesini untuk mencari kayu bakar. Nona siapa? dan mengapa ada di sini sendirian?"

Meski Hasan telah mengutarakan maksudnya, gadis itu tidak langsung percaya karena di tangan Hasan masih tergenggam sebilah pedang tajam. Dan hasan mengerti, lalu segera menyimpan pedangnya itu. Dan melanjutkan,"Tenanglah. Saya tidak bermaksud jahat. Saya pernah berjumpa dengan Nona di desa Kemanbariau".

Gadis itu pun menjawab dengan diirngi tangis yang tersendat,"Aku di culik oleh para perampok dan di buang di sini. Jauhkah hutan ini dari Kemanbariau?"

Hasan tersenyum, karena gadis itu mulai percaya kepadanya, kemudian di jawablah pertanyaan gadis itu," Kalau berjalan kaki, sekitar satu hari satu malam. Siapakah nama Nona?"

"Asriani. Tolong, antar saya pulang," Jawab gadis, dan tentu saja hal itu membuat hati Hasan semakin gembira, karena sekarang dia telah tahu nama gadis yang ada di dalam lamunannya itu.

"Baiklah, saya akan menolong Nona. Tapi sebelumnya, silahkan Nona sarapan dulu dengan bekal yang saya bawa ini", lanjut Hasan dengan memberikan bekalnya.

Setelah semua selesai, keduanya menuju ke arah desa Kemanbariau.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asriani BAB 3

Asriani BAB 2
Hari berubah dengan semestinya, malam masih tergantikan siang, pagi masih berselang, dan sore tak pernah lupa. Namun manusia masih manusia, yang masih diselubungi oleh nafsu akan sesuatu. Kemudian mati dengan membawa nafsu mereka.

Dari malam ke malam, tak disangka rumah Asriani telah diincar oleh para perampok yang telah siap melahap semua harta di dalam rumahnya. Tak terkira, pada bulan sabit para perampok itu membongkar jeruji-jeruji besi yang melindungi rumah kemudian mereka masuk dengan pedang terhunus di tangan mereka.

Betapa terkejutnya suami Asriani ketika di datangi para perampok saat dia tertidur di samping Asriani. Terdengar pelan namun jelas suara dari salah satu perampok itu,"Diam atau mati!". Dengan rasa terkejut, dan ketakutan sang suami bertanya ,"Apa yang kalian inginkan? Jangan bunuh kami, ambil semua harta yang kalian inginkan......". Di jawab oleh perampok yang lain,"Sekarang kamu bukan pada posisi memilih, jadi diamlah!"

Suami istri itu berpelukan ketakutan. Dari luar kamar, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak "PENCURI! PENCURI!" Maka ramailah suasana di dalam dan di luar rumah itu. Dari luar terlihat ada keramaian, dan tentu saja itu membuat ciut nyali para perampok. Tanpa pikir panjang, salah satu perampok menarik tangan Asriani hingga terlepas dari genggaman suami. Sang suami ingin merebut kembali, tetapi di cegah dengan pedang di depan lehernya.

"Jangan kalian bunuh dia", pinta suami dengan memelas. Tapi sepertinya permintaan itu di acuhkan mereka. Kemudian para perampok keluar lewat pintu belakang, yang ternyata di sana telah menunggu teman mereka yang bertugas membawa kuda. Dan menghilang di kegelapan malam dengan membawa Asriani yang mata dan mulutnya di penuhi oleh kain.

Dalam rumah, suami berteriak," TOLONG! TOLONG! MEREKA MEMBAWA ISTRIKU". Dan semua orang yang sedari tadi bersiaga depan rumah masuk ke dalam, dan mencoba mencari sumber suara. Yang mereka dapati adalah pria paruh baya yang menangisi istrinya. Sebagian pria mengejar para perampok, tapi tidak ada hasil.

Beberapa hari kemudian, suami Asriani masih mengurung diri di dalam kamar. Memikirkan kejadian yang menimpanya, betapa menyedihkan pria itu, yang telah kehilangan harta dan istrinya. Dalam hatinya, lebih baik dia kehilangan nyawa untuk merebutkan istrinya dari pada dia kehilangan semangat hidup dan yang ada hanya penyesalan. Meski pun dia telah menyeruh beberapa orang untuk mencari istrinya, itu tidak bisa mengobati kecemasan yang di deritanya.

Sedangkan pada waktu malam perampokan itu, Asriani yang dibawa oleh para perampok di buang di suatu hutan yang jauh dari tempat tinggalnya, bahkan jauh dari kehidupan manusia, setelah terjadi perdebatan antara para perampok. Dan Asriani waktu itu dalam keadaan takut dan hanya baju tidur yang dia kenakan. Sungguh dia benar-benar sendirian saat itu, selain Tuhan yang meneranginya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asriani BAB 2

BAB 1
Pemuda terduduk termenung di atas batu dingin diselimuti kelam. Memikirkan gadis yang dijumpai, ternyata buatnya sesak bernafas, jantung deras mendera, rasa malu dan ingin tahu, terpecahkan saat itu. Galau tapi rindu, ingin sekali saja bercengkrama dan utarakan keinginanya.

Selang di malam yang sama, jauh dari sang pemuda, menuju ke rumah gadis yang dipikirkannya, dan dia bukanlah gadis lajang, karena yang di sangka ayah oleh pemuda ternyata adalah suami sang gadis. Meski perbedaan usia mereka lebih mirip ayah dan anak, namun kenyataannya tidak demikian. Bila sang pemuda tahu, tentu tak terkirakan betapa remuk cinta yang baru tumbuh itu.

Asriani adalah nama gadis yang menjadi perenungan batin sang pemuda yang bernama Hasan itu. Dan terdengar dari bilik Asriani,"Asri, kemarilah. Naik ke sini". Maka menurutlah Asri pada perintah suaminya itu. Disandarkan kepala Asri pada tubuh sang suami. Sang suami perlahan mencium rambut, kening, kemudian bibir keduanya pun bertemu. Udara dalam kamar itu pun mulai terasa pengap. Keduanya mulai bercampur dalam nafsu yang tak terbendung. Saling meraba dan saling merasa. Keduanya mulai bergerak dalam nafas seirama.

Tanpa terasa keduanya telah melucuti pakaian dan mulai memporak-porandakan kamar dengan gerak mereka. Tubuh yang terus saling bergesekan semakin terasa panas. Tempo terbangun dengan makin cepat seakan terus saling mengalahkan. Nafas yang makin tersengal dan sedikit rintihan menjadi nyanyian. Dan akhirnya, mereka telah mencapai tujuan dalam satu tarikan nafas yang panjang.

Jauh dari kamar gairah, masih di bawah bulan yang bersinar, Hasan masih termenung memikirkan gadis itu. Bisakah aku mengenalnya? Bagaimana caranya? Selalu tiu saja yang muncul dari pikiran Hasan. Tak tahu bahwa gadis itu bukanlah gadis remaja, melainkan istri dari seseorang.

Sungguh malang bagi mereka yang merasakan cinta tanpa disambut dengan cinta yang diharapkannya. Ingin protes pada Tuhan? Tentu Tuhan lebih tahu apa yang kamu butuhkan dari pada kamu sendiri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asriani BAB 1

BAB 1

Seorang pemuda duduk di bawah temaram rembulan dengan tangis mendera. Kemudian rintihan-rintihan panjang terdengar dibisikan ke dalam nurani alam.

"Telah lama aku terdiam tentang perasaanku yang aku pahami sebagai cinta. Mencoba menidurlelapkan setiap nafas rindu sehingga menjadi keharuan serta tangisan jiwa. Setiap gelombang cemburu menerjang menjadi luka, aku mencoba tegar dengan segala kepatuhan akan kehidupan bernorma. Mungkin ketulusan cinta akan begitu berarti bila kebebasan mengungkap tabir biru di hati.

"Bila sisa tangis menjadi begitu sangat berarti dihidupku, kenapa aku tak pernah mencoba untuk lepas dari ketergantungan ini. Aku tak ingin kesedihan adalah selimut ditiap tidur malamku. Aku ingin mencoba, tapi hati menjadi begitu kecil, menciut dalam kebimbangan yang tak pernah aku mengerti. Aku selalu terluka pada kedaan seperti ini.

"Aku mencintai seorang wanita yang mengusik dan menyayat hati bila aku merindu inginkan pandangi wajahnya. Kenapa aku harus mencinta bila kebodohan untuk mengungkapkan menjadi benteng yang kokoh dan memenjarakan rasa? Aku terus melangkah tanpa ketahui ujung dan arah kemana untuk aku singgahi. Bila aku daun, maka aku adalah yang kering terbuang lesu, terhempas angin, dan menghilang tanpa bekas.

"Dalam kejauhan pikiran, aku memahami tentang ketidakabadian yang akan kekal dalam hidup di dunia ini. Semua akan termakan waktu yang selalu berjalan atas kehendak Sang Kuasa. Oh Tuhan, betapa rapuhnya nyali ini, sehingga tak sanggup menahan belain cinta yang seharusnya begitu lembut. Tolonglah aku untuk merajut semua keberanian ungkapkan keinginan memilikinya.

"Pernah aku kaburkan keinginan, tapi membuat hatiku makin jelas melihat manis ayunya. Kapan harus berakhir untaian kegelisahan ini?

"Dari ribuan hari yang telah aku lalui, tak pernah aku meraskan sejuknya melihat wanita yang sedang bercanda dengan teman sebayanya. Entah, segala tingkah lakunya seakan memanggil batinku untuk terus memandang dan menikmati keadaan itu. Tanpa sadar aku berdo'a untuk bisa mengenalnya, dan berbagi tawa yang sempurna. Tapi tiba-tiba niatku luruh ketika melihat sesosok orang tua yang dengan kasar menyuruhnya meninggalkan keramaian bersama temannya. Bahkan teman-teman wanita itu di usir bagaikan ayam yang mengotori taman.

"Setengah tak mengerti, tapi aku yakin keadaan yang seperti itu akan membuat hati semua orang tersakiti. Mengapa ayah dari wanita yang menghabiskan waktuku untuk memandangnya punyai seorang ayah bertabiat buruk.

"Aku terus belajar untuk mendekatinya, dan hampir tak ada sela untuk menjadi kesempatanku. Hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa menolongku saat ini. Iya, hanya itu yang bisa aku harapkan.

"Ternyata harapan-harapanku tak pernah menjadi kenyataan hanya menjadi kepahitan yang tak bisa aku telan bahkan hampir memuntahkan seluruh isi jiwaku yang selalu terbelenggu dengan kesendirian. Setiap waktu terlewati dengan segala penyesalan hidup yang tak berhenti.

"Dan sekarang aku hanya berharap bisa melupakan semua yang pernah aku rasakan dengan kenangan tentang gadis itu. Gadis yang selalu termenung di atas cendela yang megah namun yang memenjarakannya. Aku harus berani menghadapi rintihan-rintihan yang akan selalu menerjangku di tiap malam-malam yang menaungi. Aku harus perjuangkan semua agar aku selalu kuat dan akhirnya bisa melupakannya. Maafkan aku wahai gadis yang termenung di cendela, karena aku telah mencintaimu dengan diam-diam".

Dan sang pemuda yang bernama Hasan itu terlelap diasuhan malam. Setelah semua yang dilalui cukup melelahkan batinnya, saat ini biarkan dirinya dibelai hangatnya udara malam dan biarkan mimpi-mimpi menjadikan pendewasaan yang harus dilalui. Bila malam ini dia perdengarkan rintihan-rintihan yang memilukan, maka do'akanlah dia esok menjadi lebih baik.

Hasan bukanlah pemuda yang belajar dari rasa manja dan diasuh dari kegelimangan harta, melainkan kepalan tangan-tangan baja yang tak pernah letih dari hari ke hari mencari sesuap nasi yang menimangnya setiap hari. Maka tak heran bila sebuah apel adalah makanan termahal yang pernah dijejalkan ke dalam perutnya. Tak heran pula bila tumpukan-tumpukan kayu bakar yang selalu menyelimuti tidur dan mimpinya.

Tapi bukan berarti semua bentuk keterbatasannya menjadi alasan untuk menghentikannya berangan dan bercita-cita. Bukan hal mustahil, bila cita-citanya menjadi seorang pedagang kayu terkaya di sebuah desa menjadi nyata, karena dia telah berguru pada orang yang tepat. Guru yang mampu membuat semua orang berkepala seorang insinyur meski tak berijasah. Guru yang iba karena melihat kegigihan Hasan dalam menimba ilmu yang tak pernah letih ini mengajarkan banyak hal tentang hidup.

Hasan adalah kebaikan, maka biarkanlah dia melakukan hal-hal yang baik dan biarkanlah mata kita memandangnya dengan baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS