Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

30 September 2010

30 September 2010 (part 1)

25 September 2010
Terdengar sebuah mobil mewah masuk ke dalam pelataran rumah mewah. Dengan di kawal beberapa ajudan seorang petinggi negara mulai memasuki rumah, dan ketika akan masuk ke sebuah ruangan tempat orang-orang berkumpul, petinggi itu memberikan isyarat kepada para pengawalnya untuk menunggunya di luar ruangan.

ORang yang baru masuk itu, memberi salam kepada mereka yang telah ada di dalam ruangan. Seseorang menyambutnya dan mempersilahkannya," Pak Wiyoko silahkan duduk. Kami sudah menunggu Anda. Perkenalkan ini Iptu Hendro, kepala kepolisian wilayah kita, yang akan mencoba membantu Anda".

Orang yang di panggil Wiyoko menyahut," Terima kasih atas kehadiran Bapak-Bapak di sini. Saya merasa tidak sendirian sekarang dalam menghadapi kasus yang menimpa saya. Saya berharap, tuduhan yang dilayangkan kepada saya tidak mendapatkan hukuman yang berat. Kalau bisa, malah saya di bebaskan".

Orang yang memperkenalkan Iptu Hendro adalah seorang pengacara profesional yang sering menangani kasus para pejabat tinggi negara, ia bernama Muhtadi. Pengacara itu menyambung perkataan Wiyoko," Kalau bebas, saya kira itu tidak mungkin. Karena beberapa saksi telah memberatkan Anda dalam kasus ini. Apalagi bukti yang baru saja di dapatkan penyidik benar-benar membuat Anda skak mat. Ditambahkan lagi, saya ini masyarakat menunggu perkembangan kasus Anda".

Wiyoko menyahut dengan sedikit sinis," Ya, iya saya tahu itu. Tapi setidaknya saya tidak mendapatkan hukuman berat. Saya sedang butuh pengalihan pemberitaan media massa agar mereka tidak terlalu mengekspose kasus saya".

Iptu Hendro yang sedari tadidiam mengamati pembicaraan, mulai membuka mulutnya," Pak Wiyoko, untuk mengalihkan media massa, baru-baru ini ada kasus yang mungkin bisa membuat media massa sedikit berkurang dalam mengekspose kasus Anda. Yaitu kasus tentang skandal artis yang sedang booming. Kalau itu masih belum bisa mengalihkan, kita akan mencoba membuat drama 'Keberhasilan Densus 88".

Ternyata Wiyoko masih belum paham dengan baik, dia mencoba bertanya," Maksud dari drama 'Keberhasilan Densus' itu gimana? saya masih belum mengerti."

Iptu Hendro menyambung lagi," Kemarin Densus 88 telah berhasil melumpuhkan 3 orang teroris. Kali ini saya akan membuat seolah Densus berhasil menggagalkan bom bunuh diri yang ditujukan ke gedung Senayan. Saya hanya tinggal mencari 'pengantinnya' dan menyuruhnya pergi ke Senayan".

Wiyoko mengerti dan mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian Muhtadi, si pengacara mulai memberikan arahan kepada Wiyoko cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penyidik nanti. Di dalam ruangan itu masih terdengar perbincangan-perbincangan yang sesekali ditambah dengan suara tawa.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

30 September 2010

20 September 2010
Ditengah kebisuan malam terdengar suara sepeda lapuk dikayuh oleh seorang pria perpawakan tegap. Terlintas dipikiran banyak orang, sepeda itu sudah tak mampu lagi menahan beban pengayuhnya. Namun, bagi pria itu, Tuhan tidak akan memberikan mukjizat kepada hambanya yang hanya bisa berpangku tangan. Jadi apapun yang dimilikinya, biarlah disyukuri segala bentuk wujudnya. Meski banyak orang mencibir tetap saja tidak akan merubah nasibnya. Tukan jahit sepatu dan sandal tidak akan berubah menjadi pemilik pabrik sepatu dengan cibiran, yang bisa merubah hanyalah Tuhan dan kerja keras.

Kernyit sepeda semakin kentara tatkala malam makin senyap. Sesekali terdengar suara jangkrik dan desis ular memberi warna nada pada malam ini. Sepeda lapuk itu sudah sampai pada sebuah tempat tinggal yang lebih sering disebut dengan gubuk. Karena tidak ada serambi depan selain tumpukan sampah kardus. Tak ada cendela dan hanya pintu yang terbuat dari kayu triplik bekas yang mulai lapuk juga. Ditambah dengan tidak adanya dinding pemisah antar ruangan karena terlalu sempitnya gubuk itu untuk dipisahkan.

Tukang jahit sepatu meletakan sepeda pada tumpukan kardus bekas di depan rumah, lalu mengetuk pintu," Assalamu'alaikum..." Dan dari dalam gubuk ada yang menjawab do'a itu," Wa 'alaikumsalam, Pak?!"

Pintu terbuka dan terlihat seorang ibu tersenyum dengan menyambut bawaan yang dijinjing oleh sang bapak. Seolah ia ingin melepaskan beban yang ada di lengan bapak, suaminya itu. Suami duduk pada sofa bekas yang atasnya telah diberikan kardus agar lubang tertutupi dan bisa digubakan bersandar. Istri membawakan kopi sisa pagi tadi sebagai pengobat lelah.

"Atta sudah tidur Bu?", tanya suami setelah meminum kopi. "Sudah Pak. Atta juga sudah makan sebelum tidur. Tadi Bu Naning kemari dan memberi ayam gorang, katanya belinya kebanyakan. Lalu Atta saya suapi. Ini sisa ayam goreng Bu Naning itu Pak.," kata istri sambil menyodorkan sepiring nasi dengan ayam goreng disisi nasi.

"Ibu sudah makan?" tanya suami kembali. Dan dijawab," Sudah Pak, tadi sama Atta. Suami kembali melanjutkan perkataannya," Bu Naning selalu begitu ya Bu. Sampai aku tidak enak sendiri". Dan istri pun melanjutkan perkataannya," Ya itulah yang namanya orang kaya Pak. Selalu memberi karen selalu dapat lebih.

Pembicaraan dalam gubuk itu terus berlanjut hingga keduanya terhanyut dalam lelapnya malam.

***

25 September 2010
"Bu, Bapak hari ini tidak keliling dulu. Badanku rasanya lagi sakit," kata suami pada suatu subuh. " Ya sudah Pak. Memang sekarang lagi musimnya orang sakit. Nanti saya belikan obat kalau kiosnya Bu Marmi sudah buka", sahut ibu dengan mulai memijit tubuh suaminya itu." Tidak usah Bu. Mungkin dengan istirahat, besok juga sudah sehat lagi. Lebih baik kalau punya uang Atta dibelikan sarapan dengan telor, biar tidak mudah sakit", kata suami dengan tersenyum

Ibu membalas senyum dan berkata,"Pak kemarin Atta bicara sama ibu, katanya, Bu, Bapak kerjanya kan tukang jahit sepatu, jadi sepatu Atta banyak jahitannya. Tapi kalau Bapak kerjanya jualan sepatu, Atta kalau ke sekolah pasti tidak pakai sepatu. Trus saya tanya, lho kok tidak pakai sepatu? Dia jawab, iya dong Bu. Soalnya sepatunya Atta di jual sama Bapak". Keduanya tertawa dan Atta yang jadi bahan pembicaraan terbangun karena suara tawa itu. 

Atta adalah gadis kecil berusia 7 tahun, bila mengikuti pendidikan formal, mungkin sudah menginjak kelas 1 sekolah dasar. Tapi yang bisa diikuti oleh Atta hanyalah sekolah gratis yang dikelola oleh sebuah yayasan. Di sekolah itu hanya ada 2 kelas, yaitu kelas A dan B. Bila telah selesai dari sekolah itu, Atta harus melanjutkan kelas 1 di sekolah dasar. Dan itu akan terjadi tahun depan.

Atta kecil bagai lentera di gubuk itu. Dia bagaikan televisi berjalan untuk Bapak dan Ibunya, yang terkadang bisa membuat senang dan terhibur, kadang bisa membuat haru, bahkan tak luput juga membuat jengkel. Tapi bagi Bapak dan Ibunya, Atta adalah batu fairus yang tak pernah tersentuh tangan manusia, hanya Tuhan yang mampu mengukirnya.

"Atta tidak sholat shubuh?", tanya si Bapak, dan di jawab oleh gadis kecil itu dengan anggukan. Semua segera mengambil air wudhlu dan mulai melakukan sholat berjama'ah di dalam gubuk.

Jauh dari gubuk tukang jahit sepatu terdengar samar perbincangan orang dari dalam rumah mewah. Di sana telah berkumpul beberapa orang dan seakan masih menunggu orang lain lagi. Hingga matahari mulai terasa panas, orang yang ditunggu belum datang juga.

bersambung....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS